Politik, Patronase dan Pengadaan Studi Kasus Korupsi Proyek Wisma Atlet

Main Article Content

Johanes Danang Widoyoko

Abstract

Pemerintah dan lembaga-lembaga internasional merekomendasikan penggunakan electronic procurement sebagai strategi untuk memberans korupsi. Akan tetapi, berdasarkan telaah atas kasus korupsi kontemporer, reformasi dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah tidak mampu menghentikan korupsi. Alih-alih terkontrol, korupsi justru bertransformasi ke dalam bentuk baru menyesuaikan dengan peraturan pengadaan yang telah direformasi. Dengan mengkaji kasus korupsi dalam pembangunan wisma atlet serta meneliti aspek historis dalam aturan pengadaan barang dan jasa di Indonesia, saya berpendapat persoalan terbesarnya justru terletak di dalam patronase politik sebagai strategi utama untuk membangun dan memelihara basis sosial. Reformasi dalam pengadaan barang dan jasa, serta pemberantasan korupsi, tidak memadai untuk mengatasi persoalan tersebut.

Article Details

Section
Articles

References

Ambardi, K. (2012). Mengungkap Politik Kartel. Studi tentang Sistem Kepartaian di Indonesia Era Reformasi. Jakarta: KPG & Lembaga Survei Indonesia.

Aryanto, Y. T., Febiana, F., Septian, A., & Sianipar, T. (2011). Mandi Uap Dua Kolega. Majalah Tempo, 1 Agustus.

Aspinall, E. (2013). A Nation in Fragments. Patronage and Neoliberalism in Contemporary Indonesia. Critical Asian Studies, 45(1), 27-54.

Belarminus, R. (2017). Mantan Dirut PT DGI Dituntut 7 Tahun Penjara dalam Dua Perkara Korupsi. Retrieved 4 Juni 2018, from Kompas.com https://nasional.kompas.com/read/2017/10/30/16544801/mantan-dirut-pt-dgi-dituntut-7-tahun-penjara-dalam-dua-perkara-korupsi.

Buehler, M. (2012). Public Procurement Reform in Indonesian Provinces and Districts: The Historical Institutional Context and Lessons Learned from Analytical Work. Retrieved 26 April 2018 https://www.researchgate.net/publication/305682995_Public_Procurement_Reform_in_Indonesian_Provinces_and_Districts_The_Historical_Institutional_Context_and_Lessons_Learned_from_Analytical_Work_Jakarta_WBOJ

Crouch, H. (2007 (1978)). The Army and Politics in Indonesia. Singapore: Equinox.

Ford, M., & Pepinsky, T. B. (2014). Beyond Oligarchy. Wealth, Power and Contemporary Indonesian Politics. Ithaca: Cornell University.

Gabrilin, A. (2017). PT DGI Kendalikan Tiga Kontraktor BUMN dalam Dua Proyek Pemerintah. Retrieved 4 Juni 2018 https://nasional.kompas.com/read/2017/08/23/14463951/pt-dgi-kendalikan-tiga-kontraktor-bumn-dalam-dua-proyek-pemerintah

Gabrilin, A. (2018). Menurut Nazaruddin, Catatan Pembagian Uang Korupsi Dibahas di Ruangan Ketua Fraksi Demokrat. Retrieved 4 Juni 2018 https://nasional.kompas.com/read/2018/02/19/15375721/menurut-nazaruddin-catatan-pembagian-uang-korupsi-e-ktp-dibahas-di-ruangan

Hadiz, V. R. (2010). Localising Power in Post-Authoritarian Indonesia. California: Stanford University Press.

Hutchcroft, P. D. (2014). Linking Capital and Countryside. Patronage and Clientelism in Japan, Thailand and the Philippines. In D. A. Brun & L. Diamond (Eds.), Clientelism, Social Policy, and the Quality of Democracy. Baltimore: Johns Hopkin University Press.

Jayasuriya, K. (2005). Beyond institutional fetishism: From the developmental to the regulatory state. New Political Economy, 10(3), 381-387.

Juwono, V. (2016). Berantas Korupsi: A Political History of Governance Reform and Anti-corruption Initiatives in Indonesia 1945-2014. PhD thesis, The London School of Economics and Political Science.

Khaerudin. (2012). Tiap DPC Partai Demokrat Dapat 10.000-15.000 Dollar AS. Retrieved 4 Juni 2018 https://edukasi.kompas.com/read/2012/02/03/23281115/tiap.dpc.partai.demokrat.dapat.10.000-15.000.dollar.as.

Khan, M. H. (2006). Corruption and Governance. In J. K. Sundaram & B. Fine (Eds.), The New Development Economics. After the Washington Consensus. New Delhi: Zed Books & Tulika Books.

Lewis-Faupel, S., Neggers, Y., Olken, B. A., & Pande, R. (2016). Can Electronic Procurement Improve Infrastructure Provision? Evidence from Public Works in India and Indonesia. American Economic Journal: Economic Policy, 8(3), 258-283.

Maharani, D. (2014a). Saksi Mengaku Diminta Nazaruddin Sediakan 400 BlackBerry untuk Kongres Demokrat. Retrieved 4 Juni 2018 https://nasional.kompas.com/read/2014/07/17/14142861/Saksi.Mengaku.Diminta.Nazaruddin.Sediakan.400.BlackBerry.untuk.Kongres.Demokrat

Maharani, D. (2014b). Yulianis Sebut Diperintah Nazaruddin Bawa Uang untuk Kongres Demokrat. Retrieved 4 Juni 2018 https://nasional.kompas.com/read/2014/08/14/17274531/Yulianis.Sebut.Diperintah.Nazaruddin.Bawa.Uang.untuk.Kongres.Demokrat.

Majone, G. (1997). From the Positive to the Regulatory State: Causes and Consequence of Changes in the Mode of Governance. Journal of Public Policy, 17(2), 139-167.

Mietzner, M. (2007). Party Financing in Post-Soeharto Indonesia: Between State Subsidies and Political Corruption. Contemporary Southeast Asia, 29(2), 238-263.

Mietzner, M. (2015). Dysfunction by Design: Political Finance and Corruption in Indonesia. Critical Asian Studies, 47(4), 587-610.

Moon, M. J. (2005). E-procurement Management in State Governments: Diffusion of E-procurement Practices and Its Determinants. Journal of Public Procurement, 5(1), 54-72.

Muhaimin, Y. A. (1991). Bisnis dan Politik. Kebijaksanaan Ekonomi Indonesia 1950-1980. Jakarta: LP3ES.

Neupane, A., Soar, J., Vaidya, K., & Yong, J. (2012). Role of Public E-procurement Technology to Reduce Corruption in Government Procurement. Paper presented at the 2012 International Public Procurement Conference, Seattle, Washington.
Pangaribuan, R. (1995). The Indonesia State Secretariat 1945-1993. Perth: Asia Research Centre, Murdoch University.

Robison, R., & Hadiz, V. R. (2004). Reorganizing Power in Indonesia. The Politics of Oligarchy in an Age of Market. London: Routledge.

Septian, A., Alfiyah, N., Rizki, M., Nafi, M., Paraqbueq, R., & Listy, D. L. (2013). Cara Nazar Jadi Orang Terkaya. Majalah Tempo, 16 June.

Septian, A., Kristanti, A., Fabiana, F., & Pramono. (2012). Brankas Mengalir Sampai Jauh. Majalah Tempo, 12 Februari.

Slater, D. (2004). Indonesia's Accountability Trap: Party Cartels and Presidential Power after Democratic Transition. Indonesia, 78, 61-92.

Slater, D. (2018). Party Cartelization, Indonesian-Style: Presidential Power-Sharing and The Contingency of Democratic Opposition. Journal of East Asian Studies, 18, 23-46.

Sohail, M., & Cavill, S. (2008). Accountability to Prevent Corruption in Construction Projects. Journal of Construction Engineering and Management, 134(9), 729-738.

Stefanie, C. (2017). Jokowi akan Terbitkan Perpres Cegah OTT, Kepala Daerah Lesu. Retrieved 20 Mei 2018 https://www.cnnindonesia.com/nasional/20171024155458-32-250656/jokowi-akan-terbitkan-perpres-cegah-ott-kepala-daerah-lesu

Tidey, S. (2012). Performing the State. Everyday practices, corruption and reciprocity in Middle Indonesian civil service. PhD thesis, University of Amsterdam.

Wie, T. K. (2002). The Soeharto era and after: stability, development and crisis, 1966-2000. In H. Dick, V. J. Houben, J. T. Lindblad, & T. K. Wie (Eds.), The Emergence of A National Economy. Sydney: Allen&Unwin.

Winters, J. A. (1996). Power in Motion: Capital Mobility and the Indonesian State. Ithaca: Cornell University Press.

Winters, J. A. (2011). Oligarchy. Cambridge: Cambridge University Press.




Peraturan

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2000 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Instansi Pemerintah.
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 80 tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Intansi Pemerintah.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 54 tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor 54 tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah