Korupsi Berjamaah: Konsensus Sosial atas Gratifikasi dan Suap

Main Article Content

Supeni Anggraeni Mapuasari Hadi Mahmudah

Abstract

Penelitian ini mengkaji teori yang mendasari dugaan bahwa korupsi subur akibat dari konsensus sosial yang longgar akan tindak pindana tersebut. Peneliti menyajikan berbagai perspektif teoritis yang diharapkan mampu memperkuat literatur pencegahan korupsi. Bingkai teori yang dipakai adalah issue contingent model, theory of delinguency, dan teori fraud triangle yang sudah diperbaharui. Konsep issue contingent model menyatakan bahwa determinan individu untuk berperilaku etis dapat dipengaruhi oleh lingkungan. Ini berarti, ketika lingkungan menilai bahwa gratifikasi itu lazim dan cukup etis, maka besar kemungkinan hal itu akan jadi acuan perilaku pegawai negeri sipil. Dugaan ini diperkuat oleh penjabaran terkini fraud triangle, bahwa rasionalisasi sangat mempengaruhi tindakan etis seseorang. Rasionalisasi ini dapat bersumber dari diri sendiri dan lingkungan. Sebetulnya, jauh sebelum issue contingent model dan fraud triangle, teori kejahatan yang diperkenalkan dalam ranah studi psikologi sudah membahas logika mengenai cara pelaku kejahatan untuk menetralisir rasa bersalahnya, sehingga tindakan yang semestinya salah akan dirasionalisasi menjadi benar. Akan sangat berbahaya apabila konsensus sosial yang beredar di masyarakat telah berhasil membius persepsi baik pegawai negeri sipil maupun warga sipil akan lazimnya gratifikasi. Jika hal itu terjadi, pegawai negeri sipil dapat dengan mudah membenarkan gratifikasi, sementara warga sipil menciptakan peluang gratifikasi dan suap dari waktu ke waktu. Melalui tulisan ini, penulis ingin meyakinkan kan pentingnya pemahaman akan posisi konsensus sosial gratifikasi dan suap secara ilmiah dan terstruktur berlandaskan kajian teori yang memadai. Selain itu perlunya paradigm baru untuk mencegah korupsi.


 


Kata Kunci: gratifikasi, konsensus sosial, suap.

Article Details

Section
Articles

References

Al Zadjali, M. K. S. (2010). The nature, causes, consequences, and mitigation of corruption : a new paradigm and role for accounting. Lincoln University.
Anand, V., Ashforth, B. E., & Joshi, M. (2005). Business as usual : The acceptance and perpetuation of corruption in organizations, 19(4).
Bandura, A. (1969). Social learning theory on identificatory processes. In Handbook of Socialization Theory and Research (pp. 213–262). Rand McNally & Company.
Benson, M. L. (1985). Denying the Guilty Mind: Accounting for Involvement in a White‐Collar Crime. Criminology, 23(4), 583–607. http://doi.org/10.1111/j.1745-9125.1985.tb00365.x
Cressey, D. R. (1950). The Criminal Violation of Financial Trust. American Sociological Review, 15(6), 738–743. Retrieved from http://aaajournals.org/doi/10.2308/iace.2008.23.4.521
Dellaportas, S. (2013). Conversations with inmate accountants : Motivation , opportunity and the fraud triangle. Accounting Forum, 37(1), 29–39. http://doi.org/10.1016/j.accfor.2012.09.003
Gault, D. A. (2017). Corruption as an organizational process : Understanding the logic of the denormalization of corruption. Contaduría Y Administración, 62(3), 827–842. http://doi.org/10.1016/j.cya.2016.01.008
Irwin, J., & Cressey, D. R. (1962). Thieves , Convicts and the Inmate Culture. Social Problems, 10(2), 142–155.
Jones, T. M. (1991). Ethical Decision Making by Individuals in Organizations : An Issue-Contingent Model. The Academy of Management Review, 16(2), 366–395.
Kale, R. K. (2017). 21. Corruption: Nature, Causes & Remedies. New Man International Journal of Multidiciplinary Studies, 4(8), 133–141.
Kelley, P. C., & Elm, D. R. (2003). The effect of context on moral intensity of ethical issues: Revising Jones’s issue-contingent model. Journal of Business Ethics, 48(2), 139–154. http://doi.org/10.1023/B:BUSI.0000004594.61954.73
Kompas.com. (2018). Kasus Korupsi Massal di DPRD Kota Malang, Ini Sejumlah Faktanya. Retrieved September 15, 2018, from https://regional.kompas.com/read/2018/09/04/15100021/kasus-korupsi-massal-di-dprd-kota-malang-ini-sejumlah-faktanya
Liputan6.com. (2017). Kejagung Tahan Tersangka Kasus Pengadaan Kapal di Pertamina. Retrieved from https://www.liputan6.com/news/read/3051471/kejagung-tahan-tersangka-kasus-pengadaan-kapal-di-pertamina
Mcmahon, J. M., & Harvey, R. J. (2007). The Effect of Moral Intensity on Ethical Judgment. Journal of Business Ethics, 335–357. http://doi.org/10.1007/s10551-006-9174-6
Rahman, F., Baidhowi, A., & Agnesia, R. (2018). Pola Jaringan Korupsi di Tingkat Pemerintah Desa ( Studi Kasus Korupsi DD dan ADD Tahun 2014-2015 di Jawa Timur ). Jurnal Integritas, 1(2), 29–56.
Ramamoorti, S. (2008). The Psychology and Sociology of Fraud: Integrating the Behavioral Sciences Component Into Fraud and Forensic Accounting Curricula. Issues in Accounting Education, 23(4), 521–533. http://doi.org/10.2308/iace.2008.23.4.521
Steidlmeier, P. (1999). Gift Giving , Bribery and Corruption : Ethical Management of Business Relationships in China. Journal of Business Ethics, 20, 121–132.
Sutherland, E. H. (1992). A Theory of Criminology. In Principles of Criminology.
Sykes, G. M., & Matza, D. (1957). Techniques of Neutralization : A Theory of Delinquency. American Sociological Review, 22(6), 664–670.
The Jakarta Post. (2017). E-KTP case goes to trial. Retrieved September 15, 2018, from http://www.thejakartapost.com/news/2017/03/05/e-ktp-case-goes-to-trial.html
Tian, Q. (2008). Perception of Business Bribery in China : the Impact of Moral Philosophy. Journal of Business Ethics, 80, 437–445. http://doi.org/10.1007/s10551-007-9429-x
Wu, W. (2009). An Empirical Investigation of the Relationships between Moral Intensity and Ethical Decision Making in Electronic Commerce. International Journal of Organizational Innovation, 2(2), 195–210.
Yu, Y. M. (2015). Comparative Analysis of Jones’ and Kelley’s Ethical Decision-Making Models. Journal of Business Ethics, 130(3), 573–583. http://doi.org/10.1007/s10551-014-2245-1
Yu, Y.-M. (2015). Comparative Analysis of Jones' and Kelley's Ethical Decision-Making Models. Journal of Business Ethics , 573-583.